1.575 PPPK Guru Pemkab Bone Risau Belum Terima SK Pengangkatan

Sebanyak 1.575 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru di lingkup Pemkab Bone Sulawesi Selatan (Sulsel) risau karena belum ada kepastian pengangkatan. Mereka berharap segera ada kejelasan dari Pemkab.
“Saya lulus Oktober 2021, PPPK tahap 1. Namun hingga Juni ini belum ada kepastian SK kapan diterima,” ungkap salah seorang PPPK guru inisial HP, Senin, (27/6/2022).

Pada seleksi tahap I ada 983 orang, tahap kedua 593 orang dengan total 1.576 orang. Namun yang diusulkan untuk di SK-kan sebanyak 1.575 karena 1 orang dinyatakan meninggal.

Baca Juga : Pengertian KBM dan Faktor yang Mempengaruhinya, Simak Yuk!

“Daerah lain sudah terima yang tahap 1. Namun kita di Bone belum jelas nasibnya,” bebernya.

Akibat SK yang belum juga diberikan, pihaknya belum juga menerima gaji. Beruntung ada guru honorer yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi sehingga sedikit terbantu.

“Selama 8 bulan kami hanya ikhlas mengajar tanpa gaji dan kami juga belum digaji dari Pemda karena SK kami belum ada,” tambahnya.

Sementara Kabid Pengadaan Pemberhentian dan Informasi BKPSDM Bone Abd Rahman menuturkan, SK untuk seleksi tahap 1 dan 2 masih proses penetapan Nomor Identitas Pegawai (NIP) di BKN Provinsi Sulsel.

“Infonya kemarin sudah ada 1000 lebih yang sudah ada NIP-nya, yang lainnya sementara proses. Ada juga beberapa hasil monitoring teman-teman masih harus melengkapi berkas,” ucapnya.

Rahman menyebut untuk SK-nya nanti setelah rampung semua penetapan NIP baru diberikan SK-nya. Namun pihaknya mengupayakan untuk selesai tahun ini.

“Kita usahakan tahun ini SK-nya. Sedangkan untuk gajinya itu nanti berdasarkan Surat Pernyataan Menjalankan Tugas (SPMT), dan baru menerima honor setelah mereka mengabdi,” jelasnya.

Pengertian KBM dan Faktor yang Mempengaruhinya, Simak Yuk!

Apabila dikaitkan dengan konteks pendidikan, KBM merupakan singkatan yang sering disebut dan disangkutpautkan dengan kegiatan di sekolah. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan KBM?

Pengertian KBM
Kepanjangan dari KBM itu sendiri adalah Kegiatan Belajar Mengajar, yang pada praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh guru dengan murid untuk membangun interaksi yang bersifat memengaruhi dan dipengaruhi, seperti dijelaskan pada artikel ilmiah berjudul Meningkatkan Mutu Belajar Siswa Pembelajaran E-Learning.

Mengutip buku berjudul Dinamika Guru dan Gaya Belajar oleh Waryani, KBM terdiri dari dua kegiatan, yaitu belajar dan mengajar. Kegiatan belajar mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan murid dalam mempelajari materi yang disampaikan oleh guru. Perilaku seperti disiplin, mandiri, aktif, dan semangat dalam belajar, dapat berpengaruh pada keefektifan proses pembelajaran.

Baca Juga : Batas Cek Skor UTBK 2022 & Unduh Sertifikat hingga 31 Juli, Jangan Terlewat!

Sedangkan kegiatan mengajar mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran guru, seperti apa-apa yang disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Begitu juga dengan guru, perilaku seperti, mengajar dengan jelas dan asyik, memiliki metode mengajar yang bermacam-macam, serta memperdaya murid untuk bersemangat dan aktif dalam belajar, juga akan mempengaruhi keefektifan proses pembelajaran.

Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman dalam KBM

KBM berkaitan erat dengan bagaimana metode belajar-mengajar yang dilakukan oleh murid dan guru dapat bekerja dengan baik.

Faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses KBM berada pada guru dan murid itu sendiri, salah satunya adalah perilaku guru dan murid. Perilaku kedua subyek dalam proses kegiatan ini dapat mempengaruhi keefektifan proses pembelajaran.

Seperti dijelaskan dalam buku Media Pembelajaran PAI oleh Masrur Huda, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi pemahaman, di antaranya:

Tujuan
Tujuan menjadi sasaran yang akan dicapai dalam proses KBM. Tujuan yang telah dirancang sedemikian rupa akan mempengaruhi proses KBM bagi guru dan murid. Tujuan yang dimaksud di sini adalah Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang mengacu pada Tujuan Instruksional Umum (TIU).

Hendaknya guru menyesuaikan dengan situasi dan kondisi murid dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Guru
Guru merupakan tenaga pendidik yang bertugas memberikan dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid. Maka dari itu, hal-hal yang berkaitan dengan pengajaran oleh guru juga akan mempengaruhi pemahaman murid.

Peserta didik
Peserta didik atau murid adalah orang yang secara sengaja menerima pengajaran dan belajar bersama teman sebayanya. Setiap murid memiliki karakter dan latar belakang serta minat dan bakat yang berbeda-beda, hal ini juga akan mempengaruhi pemahaman mereka dalam belajar.

Kegiatan Pengajaran
Kegiatan pengajaran merupakan kegiatan berupa interaksi antara murid dan guru dalam KBM. Kegiatan ini mencakup suasana yang dapat mempengaruhi saat KBM berlangsung, seperti kelas dengan keadaan yang gaduh atau kelas dengan keadaan yang tenang, keduanya akan memiliki hasil KBM yang berbeda. Tidak hanya suasana, alat (media) dan cara pengajaran juga berperan dalam kegiatan pengajaran.

Salah satu cara melihat keefektifan KBM, yaitu hasil belajar atau prestasi murid. Namun hal tersebut masih merupakan satu dari sekian banyak cara untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan efektif.

Memilih Sekolah yang Tepat, Bukan yang Terbaik

Sekolah adalah jembatan perubahan. Melalui pendidikan, anak akan belajar banyak hal. Bukan hanya perkara pengetahuan dan keterampilan, pendidikan juga akan berpengaruh pada pembentukan mindset (pola pikir) dan terciptanya networking. Secara langsung atau tidak, hal ini akan berpengaruh pada masa depan anak.

Menjelang tahun ajaran baru seperti saat ini, orangtua sibuk memilih sekolah buat anaknya. Setiap orangtua pasti memiliki keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik buat anaknya, termasuk perkara pendidikan. Kita semua sepakat, pendidikan itu penting. Hanya saja memilih sekolah itu gampang-gampang susah.

Baca Juga : Sekolah Swasta atau Negeri? Mana yang Lebih Baik?

Di negara kita ada begitu banyak sekolah, dan tentu saja sekolah-sekolah itu memiliki kualitas yang berbeda-beda. Lihat saja dari sisi biaya, ada sekolah yang gratis, ada juga yang biayanya puluhan sampai ratusan juta. Dan bagi sebagian besar masyarakat, faktor biaya masih menjadi entry barrier dalam memilih sekolah.
Kita sama-sama paham, sekolah yang bagus itu cenderung mahal. Karena untuk membangun gedung yang megah dan menyediakan fasilitas super lengkap serta membayar guru-guru profesional dibutuhkan biaya yang tinggi. Konsekuensinya bagi sekolah swasta, biaya-biaya tersebut, sebagian atau sepenuhnya, harus ditanggung orangtua siswa.

Terkecoh

Orangtua sering terkecoh dengan kriteria sekolah terbaik. Sejauh ini, sekolah terbaik sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat akademis. Peringkat akreditasi. Lulusan yang berhasil lolos PTN. Atau berbagai prestasi akademis lainnya. Kita lupa, seharusnya yang menjadi indikator kualitas sekolah adalah sejauh mana ia mampu mengubah peserta didik menjadi lebih baik.

Harus ada perbedaan yang signifikan antara kondisi awal peserta didik (input) dan kondisi setelah mengikuti proses pendidikan (output). Kalau ada sekolah favorit, yang masuknya saja harus melalui seleksi yang ketat, rasanya biasa-biasa saja kalau kemudian siswa-siswinya berprestasi, alumninya lolos masuk ke berbagai PTN. Kan input-nya juga sudah berkualitas? Para guru tidak butuh effort yang besar.

Ada dua teori belajar yang paling banyak digunakan. Pertama, teori yang memandang bahwa pada dasarnya setiap anak memiliki potensi. Maka fungsi pendidikan memfasilitasi tumbuh kembang potensi tersebut dengan optimal. Teori kedua menekankan pada perubahan perilaku; kompetensi apa yang harus dimiliki siswa setelah menjalani serangkaian pendidikan. Kalau pada teori pertama guru berperan menuntun mengoptimalkan potensi anak, sedangkan pada teori kedua guru berperan mengisi. Keduanya baik, meski masing-masing tetap memiliki kekurangan dan kelebihan

Pendidikan dapat dianalogikan seperti kegiatan cocok tanam. Kalau bibitnya berasal dari varietas unggul, ditanam di tanah yang subur, kemudian ditangani petani profesional, kita bisa menebak, hasilnya akan optimal. Namun setiap tanaman memiliki karakteristik yang berbeda. Ada tanaman yang tumbuh subur ditempat kering, ada juga yang butuh banyak air. Ada tanaman yang cocok di dataran tinggi, ada yang justru butuh dataran rendah. Adanya perbedaan karakteristik meniscayakan perlakuan berbeda pula.

Begitupun dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan dipengaruhi tiga variabel, yakni anak didik, sekolah, dan guru. Setiap anak merupakan pribadi yang unik. Memiliki karakteristik, minat, dan bakat yang berbeda. Potensinya pun berbeda. Jangankan dengan teman sekelasnya, dengan saudara kandungnya saja berbeda. Kalau kita merujuk pada teori multiple intelegence (kecerdasan majemuk), setiap anak pada dasarnya cerdas. Setidaknya ia memiliki satu dari delapan kecerdasan.

Sekolah dalam artian lingkungan maupun sistem harus mampu menjadi ekosistem yang subur untuk tumbuh kembang potensi anak. Tidak ada diskriminasi terhadap kecerdasan. Selanjutnya, bisa jadi ini merupakan faktor terpenting, adalah guru. Peran guru sangat penting karena ia adalah ujung tombak yang berinteraksi langsung dengan anak. Guru perlu menyadari sepenuhnya bahwa profesinya berbeda dengan profesi lain. Bahwa dalam pendidikan anak adalah objek sekaligus subjek.

Apapun pendekatan belajar yang digunakan, keberhasilan pendidikan dimulai dari kejelian guru dan orangtua dalam mengenal potensi anak. Potensi yang berbeda akan menuntut treatment yang berbeda. Perlakuan yang tepat akan membuat potensi anak tumbuh dan berkembang. Karena anak lebih antusias dan gembira dalam mengikuti pembelajaran. Di tangan guru kreatif kekurangan fasilitas akan mudah diatasi.

Sesuai Potensi

Saya teringat film yang sangat inspiratif, Beyond the Blackboard. Film yang dirilis pada 2011 ini diangkat dari kisah nyata Stacey Bess. Menceritakan tentang perjuangan ketulusan seorang wanita yang direkrut menjadi guru di tempat penampungan warga Amerika yang homeless. Situasi sekolah yang sama sekali tidak ideal. Tidak ada fasilitas untuk belajar. Anak-anak yang juga sangat liar. Namun dengan ketulusannya dan dedikasinya ia membenahi sendiri tempat tersebut dengan apapun yang ia punya. Ia bisa mengambil hati satu per satu anak maupun orangtua. Perlahan ia mengubah segalanya.

Sekolah yang tepat adalah sekolah yang paling sesuai dengan karakteristik dan potensi anak. Bisa jadi ia tidak memiliki julukan sekolah terbaik atau favorit. Ia hanya sekolah dengan bangunan sederhana yang berdiri di pinggir kota. Namun dengan guru-guru yang penuh ketulusan dan dedikasi, ia mampu menggali dan memfasilitasi tumbuh kembang potensi anak. Sekolah yang mampu menghadirkan pendidikan esensial, bukan eksistensial.