Jurusan Kurang Peminat di UI UGM ITB, Peluang Masuk Besar

Jurusan Kurang Peminat – Perguruan Tinggi Negeri (PTN) masih menjadi tujuan utama lulusan SMA yang ingin melanjutkan studi. Baik itu SNMPTN, SBMPTN, atau Seleksi Mandiri PTN, calon mahasiswa selalu diminati, sehingga memiliki tingkat keketatan yang tinggi. Calon mahasiswa yang ingin kuliah di PTN harus memiliki strategi yang jitu agar bisa lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri impiannya, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada. (UGM).

Banyak calon mahasiswa yang gagal masuk PTN bukan karena tidak pintar, melainkan karena strategi yang tidak tepat dalam memilih program studi. Maka untuk itu, Anda harus mengetahui minat pribadi Anda sebelum mendaftar PTN. Anda harus jeli dalam mengenali kemampuan diri sendiri, dan membandingkannya dengan program studi dan PTN yang dipilih. Kemudian, asah kemampuan tersebut sambil mengamati tingkat ketatnya program studi tersebut. Selain harus menyesuaikan dengan bakat dan minat, jurusan kuliah yang kurang diminati juga bisa menjadi alternatif pilihan. Jika Anda mendaftar di jurusan perguruan tinggi yang umumnya kurang diminati siswa, maka peluang untuk lulus akan semakin besar.

Banyak calon mahasiswa yang gagal masuk PTN bukan karena tidak pintar, melainkan karena strategi yang tidak tepat dalam memilih program studi. Maka untuk itu, Anda harus mengetahui minat pribadi Anda sebelum mendaftar PTN. Anda harus jeli dalam mengenali kemampuan diri sendiri, dan membandingkannya dengan program studi dan PTN yang dipilih. Kemudian, asah kemampuan tersebut sambil mengamati tingkat ketatnya program studi tersebut. Selain harus menyesuaikan dengan bakat dan minat, jurusan kuliah yang kurang diminati juga bisa menjadi alternatif pilihan. Jika Anda mendaftar di jurusan perguruan tinggi yang umumnya kurang diminati siswa, maka peluang untuk lulus akan semakin besar.

Jurusan Kurang Peminat di Universitas Indonesia (UI)

Lalu apa saja jurusan Seleksi Mandiri SNMPTN-SBMPTN yang jarang diminati? Beberapa jurusan yang kurang dikenal ini ada di beberapa kampus ternama. Misalnya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), hingga Institut Teknologi Bandung (ITB). Jurusan yang Jarang Tertarik dengan UI Universitas Indonesia sendiri merupakan salah satu kampus yang diimpikan banyak orang. Lokasi di Depok dan memiliki banyak akses mudah ke semua fasilitas yang diperlukan. setidaknya ada 10 jurusan yang paling diminati di kampus ini.

  • 1. Geografi
  • 2. Fisika
  • 3. Ilmu Keperawatan
  • 4. Teknik Pengiriman
  • 5. Teknik Elektro
  • 6. Sastra Daerah untuk Sastra Jawa
  • 7. Sastra Rusia
  • 8. Filsafat
  • 9. Arkeologi
  • 10. Sejarah

Padahal, peluang kerja bagi lulusan jurusan tersebut sebenarnya terbuka lebar. Namun entah kenapa, para peminat juga sepi pada Seleksi SNMPTN-SBMPTN 2021 secara mandiri.

Jurusan Kurang Peminat di Institut Teknologi Bandung (ITB )

Jurusan yang Kurang Tertarik di ITB Kampus yang terletak di Bandung ini cukup terkenal dengan kualitas pendidikannya. Lingkungan kreatif dan etos kerja yang tinggi membuat budaya ITB begitu dikenal. Beberapa jurusan Seleksi Mandiri SNMPTN-SBMPTN yang jarang diminati antara lain:

  • 1. Sekolah Teknik Elektro dan Informatika
  • 2. Jurusan di Fakultas MIPA
  • 3. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Program Teknik
  • 4. Jurusan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Kampus Cirebon

Meski terdengar familiar, keempat tujuan tersebut adalah SNMPTN-SBMPTN-Seleksi Mandiri yang jarang terjadi pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2021.

Jurusan Kurang Peminat di Universitas Gadjah Mada (UGM)

Jurusan yang Jarang Diminati di UGM Universitas Gadjah Mada sendiri, ada beberapa jurusan yang sebenarnya memiliki potensi lapangan kerja yang luas, namun peminatnya rendah. Berikut jurusan SNMPTN yang jarang dicari di UGM:

  • 1. Agroteknologi
  • 2. Agribisnis
  • 3. Peternakan
  • 4. Kehutanan
  • 5. Geografi Lingkungan
  • 6. Arkeologi
  • 7. Sejarah
  • 8. Sastra Jawa
  • 9. Sastra Prancis
  • 10. Sastra Jepang

Cukup banyak bukan? Siapa tahu tahun 2022 penerimaan mahasiswa baru, atau orang yang Anda kenal akan ingin masuk ke salah satu jurusan tersebut. Itulah informasi terkait jurusan SNMPTN-SBMPTN-Seleksi Mandiri yang jarang dicari di 3 universitas favorit. Semoga bisa menjadi wawasan baru dan bermanfaat, sehingga bisa digunakan untuk manfaat yang Anda miliki.

Memilih Sekolah yang Tepat, Bukan yang Terbaik

Sekolah adalah jembatan perubahan. Melalui pendidikan, anak akan belajar banyak hal. Bukan hanya perkara pengetahuan dan keterampilan, pendidikan juga akan berpengaruh pada pembentukan mindset (pola pikir) dan terciptanya networking. Secara langsung atau tidak, hal ini akan berpengaruh pada masa depan anak.

Menjelang tahun ajaran baru seperti saat ini, orangtua sibuk memilih sekolah buat anaknya. Setiap orangtua pasti memiliki keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik buat anaknya, termasuk perkara pendidikan. Kita semua sepakat, pendidikan itu penting. Hanya saja memilih sekolah itu gampang-gampang susah.

Baca Juga : Sekolah Swasta atau Negeri? Mana yang Lebih Baik?

Di negara kita ada begitu banyak sekolah, dan tentu saja sekolah-sekolah itu memiliki kualitas yang berbeda-beda. Lihat saja dari sisi biaya, ada sekolah yang gratis, ada juga yang biayanya puluhan sampai ratusan juta. Dan bagi sebagian besar masyarakat, faktor biaya masih menjadi entry barrier dalam memilih sekolah.
Kita sama-sama paham, sekolah yang bagus itu cenderung mahal. Karena untuk membangun gedung yang megah dan menyediakan fasilitas super lengkap serta membayar guru-guru profesional dibutuhkan biaya yang tinggi. Konsekuensinya bagi sekolah swasta, biaya-biaya tersebut, sebagian atau sepenuhnya, harus ditanggung orangtua siswa.

Terkecoh

Orangtua sering terkecoh dengan kriteria sekolah terbaik. Sejauh ini, sekolah terbaik sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat akademis. Peringkat akreditasi. Lulusan yang berhasil lolos PTN. Atau berbagai prestasi akademis lainnya. Kita lupa, seharusnya yang menjadi indikator kualitas sekolah adalah sejauh mana ia mampu mengubah peserta didik menjadi lebih baik.

Harus ada perbedaan yang signifikan antara kondisi awal peserta didik (input) dan kondisi setelah mengikuti proses pendidikan (output). Kalau ada sekolah favorit, yang masuknya saja harus melalui seleksi yang ketat, rasanya biasa-biasa saja kalau kemudian siswa-siswinya berprestasi, alumninya lolos masuk ke berbagai PTN. Kan input-nya juga sudah berkualitas? Para guru tidak butuh effort yang besar.

Ada dua teori belajar yang paling banyak digunakan. Pertama, teori yang memandang bahwa pada dasarnya setiap anak memiliki potensi. Maka fungsi pendidikan memfasilitasi tumbuh kembang potensi tersebut dengan optimal. Teori kedua menekankan pada perubahan perilaku; kompetensi apa yang harus dimiliki siswa setelah menjalani serangkaian pendidikan. Kalau pada teori pertama guru berperan menuntun mengoptimalkan potensi anak, sedangkan pada teori kedua guru berperan mengisi. Keduanya baik, meski masing-masing tetap memiliki kekurangan dan kelebihan

Pendidikan dapat dianalogikan seperti kegiatan cocok tanam. Kalau bibitnya berasal dari varietas unggul, ditanam di tanah yang subur, kemudian ditangani petani profesional, kita bisa menebak, hasilnya akan optimal. Namun setiap tanaman memiliki karakteristik yang berbeda. Ada tanaman yang tumbuh subur ditempat kering, ada juga yang butuh banyak air. Ada tanaman yang cocok di dataran tinggi, ada yang justru butuh dataran rendah. Adanya perbedaan karakteristik meniscayakan perlakuan berbeda pula.

Begitupun dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan dipengaruhi tiga variabel, yakni anak didik, sekolah, dan guru. Setiap anak merupakan pribadi yang unik. Memiliki karakteristik, minat, dan bakat yang berbeda. Potensinya pun berbeda. Jangankan dengan teman sekelasnya, dengan saudara kandungnya saja berbeda. Kalau kita merujuk pada teori multiple intelegence (kecerdasan majemuk), setiap anak pada dasarnya cerdas. Setidaknya ia memiliki satu dari delapan kecerdasan.

Sekolah dalam artian lingkungan maupun sistem harus mampu menjadi ekosistem yang subur untuk tumbuh kembang potensi anak. Tidak ada diskriminasi terhadap kecerdasan. Selanjutnya, bisa jadi ini merupakan faktor terpenting, adalah guru. Peran guru sangat penting karena ia adalah ujung tombak yang berinteraksi langsung dengan anak. Guru perlu menyadari sepenuhnya bahwa profesinya berbeda dengan profesi lain. Bahwa dalam pendidikan anak adalah objek sekaligus subjek.

Apapun pendekatan belajar yang digunakan, keberhasilan pendidikan dimulai dari kejelian guru dan orangtua dalam mengenal potensi anak. Potensi yang berbeda akan menuntut treatment yang berbeda. Perlakuan yang tepat akan membuat potensi anak tumbuh dan berkembang. Karena anak lebih antusias dan gembira dalam mengikuti pembelajaran. Di tangan guru kreatif kekurangan fasilitas akan mudah diatasi.

Sesuai Potensi

Saya teringat film yang sangat inspiratif, Beyond the Blackboard. Film yang dirilis pada 2011 ini diangkat dari kisah nyata Stacey Bess. Menceritakan tentang perjuangan ketulusan seorang wanita yang direkrut menjadi guru di tempat penampungan warga Amerika yang homeless. Situasi sekolah yang sama sekali tidak ideal. Tidak ada fasilitas untuk belajar. Anak-anak yang juga sangat liar. Namun dengan ketulusannya dan dedikasinya ia membenahi sendiri tempat tersebut dengan apapun yang ia punya. Ia bisa mengambil hati satu per satu anak maupun orangtua. Perlahan ia mengubah segalanya.

Sekolah yang tepat adalah sekolah yang paling sesuai dengan karakteristik dan potensi anak. Bisa jadi ia tidak memiliki julukan sekolah terbaik atau favorit. Ia hanya sekolah dengan bangunan sederhana yang berdiri di pinggir kota. Namun dengan guru-guru yang penuh ketulusan dan dedikasi, ia mampu menggali dan memfasilitasi tumbuh kembang potensi anak. Sekolah yang mampu menghadirkan pendidikan esensial, bukan eksistensial.